Suara perubahan buruh sawit di Kalimantan Barat

Potret Indonesia

Redactie
Door Redactie 10 maart 2026

Di sebuah perkebunan sawit di Kalimantan Barat, Indonesia, perlahan muncul gelombang perubahan dari suara-suara yang telah lama dibungkam. Serikat buruh perkebunan PT Sumatra Jaya Agro Lestari (SJAL) merupakan bukti nyata bahwa buruh sawit tidak hanya berjuang demi upah dan jam kerja, tetapi juga demi martabat dan masa depan.

PEMBARUAN:
Yublina diberhentikan pada Januari 2026, kemungkinan karena aktivitas serikat pekerjanya (union busting). Informasi lebih lanjut dapat dibaca di sini.

 

Yublina, seorang pekerja perempuan di kebun bibit PT SJAL, mengingat dengan jelas kondisi kerja sebelum ada serikat buruh. “Upah harian kami hanya 9.000 rupiah (hampir 50 sen euro). Tidak ada sekolah dan jalannya sulit dilewati,” ucapnya. Sekarang ia merupakan salah satu tokoh kunci dalam gerakan buruh. Ia memperjuangkan hak-hak dasar pekerja meskipun ada tantangan besar dalam menghadapi perusahaan.

Kompensasi tambahan

Serikat buruh awalnya tidak disambut. Rasa takut dan stigma mencegah banyak pekerja untuk bergabung menjadi anggota. “Saya tidak mengerti alasan para pekerja lokal menahan diri untuk berserikat,” ujar Yublina. Namun, perlahan situasi mulai berubah. Pada tahun 2021, perusahaan mulai membuka diri, terutama saat dimulainya proses sertifikasi. Serikat buruh diundang untuk berdiskusi. Negosiasinya pun mulai membuahkan hasil. Pekerjaan di kebun bibit mulai memiliki pengaturan lebih baik dan permintaan upah lembur dikabulkan dengan persyaratan tertentu. “ Kami meminta upah tambahan 10.000 rupiah per jam untuk lembur yang pada akhirnya disetujui oleh perusahaan,” ia bercerita. Bahkan hak-hak para pekerja yang pensiun, mengundurkan diri, atau meninggal dunia sekarang dihormati dengan lebih baik. Dahulu mereka hanya mendapatkan kompensasi sebesar 300.000 rupiah. Saat ini mereka mendapatkan kompensasi berdasarkan lamanya ikatan kerja mereka.

Kehidupan yang lebih baik

Sekarang sudah ada sarana untuk keadaan darurat. “Jika seorang pekerja jatuh sakit di malam hari, ia dapat meminta untuk dibawa ke pos kesehatan. Biayanya akan ditagih keesokan harinya,” ia menjelaskan. Namun, perjuangan belum selesai. Alat pelindung diri (APD) masih terbatas dan hanya dipakai saat ada pengawasan. “Sejak saya bekerja di sini, baru tahun ini perusahaan memberikan APD. Sebelumnya tidak ada sama sekali,” ia menambahkan.

Maria, juga dikenal sebagai Sela, merupakan bendahara serikat buruh. Ia dan suaminya harus meninggalkan satu-satunya anak mereka di kampung halaman karena tidak ada sarana yang memadai untuk anak-anak. “Saya ingin kehidupan yang lebih baik bagi putri saya dan saya sendiri,” ujarnya. Pengalamannya dalam berserikat membuka matanya dan memotivasi dirinya untuk belajar. Sela merupakan asisten rumah tangga di perkebunan. Ia mengurus rumah para pegawai perusahaan. Ia tidak pernah menyangka akan banyak belajar dari kegiatannya sebagai organisator. “Tentang undang-undang, lingkungan, dan perempuan. Saya telah banyak belajar,” ucapnya.

Cuti hamil

Perjuangan dari dan untuk perempuan di sektor ini sangat kompleks. Selain tekanan dari perusahaan, perempuan menanggung beban rumah tangga. “Saya tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tidak apa-apa jika saya dipecat, yang penting saya membela mereka yang tidak memiliki suara,” Yublina menambahkan. Ia juga mendukung cuti hamil dan cuti haid untuk pekerja perempuan dan serikat buruh. “Saat ini pekerja perempuan mendapat cuti hamil selama tiga bulan yang bisa diperpanjang jika bayinya kurang sehat,” ia menjelaskan.

Cerita berbeda datang dari Serikat Buruh Kebun Bersatu di PT Bumi Pratama Khatulistiwa tempat Maman Rohman dan istrinya mengajar membaca dan menulis. Sekretariat serikat buruh menjadi ruang kelas mereka. Mayoritas pesertanya perempuan. “Mungkin yang laki-laki merasa terlalu gengsi untuk belajar membaca sebagai orang dewasa,” candanya. Buku-buku yang dipakai berasal dari pemerintah atau donasi. “Begitu mereka dapat membaca, mereka langsung menunjukkannya di kelas. Saya sangat terharu,” ucapnya.

Bukan hal yang tidak biasa bagi Maman untuk mengambil inisiatif. Ia mengunjungi rumah-rumah siswanya sehingga mereka tidak harus pergi jauh ke sekretariat. Murid-muridnya berjumlah sekitar 20 orang. “Mungkin mereka lelah setelah bekerja seharian dan terlalu capai untuk belajar di malam hari,” katanya. Pelajarannya terus berlanjut dan para anggota serikat buruh aktif mengumpulkan buku untuk dibaca. Dapat membaca resep masakan dan komentar di media sosial saja sudah membuat para perempuan yang belajar merasa senang.

Bersatu untuk maju

Awal 2023 tercapai tonggak baru: berdirinya Federasi Serikat Buruh Kebun Sawit Kalimantan Barat (FSBKS Kalbar). Yublina diangkat menjadi ketua yang sekaligus memperkuat kepemimpinan perempuan di dalam gerakan buruh. FSBKS Kalbar mempersatukan enam serikat buruh dari berbagai perusahaan dan membawa suara buruh ke panggung internasional.

FSBKS Kalbar terdiri atas enam serikat buruh yang mewakili pekerja dari enam perusahaan: PT Aditya Agroindo Plantation Workers Union, PT MAR Plantation Workers Union, PT Surya Agro Palma Plantation Workers Union, PT Sumatra Jaya Agro Lestari Plantation Workers Union, PT Bumi Pratama Khatulistiwa Plantation Workers Union, dan PT Agro Andalan Plantation Workers Union. “Sejak kami bergabung dengan serikat buruh internasional IPOWU, kami dapat mengajukan keluhan kepada pembeli minyak sawit jika ada masalah hak-hak pekerja yang tidak ditangani oleh perusahaan,” Yublina menjelaskan. Federasi ini merupakan bagian dari jaringan IPOWU yang didirikan di Amsterdam di bawah pimpinan Mondiaal FNV. Dukungan dari Belanda, Kolombia, dan Afrika telah memperkuat perjuangan mereka.

Bahan pelatihan daring dan luring

Banyak orang di Eropa berpikir bahwa produksi minyak sawit berjalan dengan baik. “Ada banyak pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi,” Yublina menekankan. Perusahaan biasanya merespons lebih cepat di bawah tekanan internasional. Federasi juga berpartisipasi dalam pertemuan global dan acara pertukaran dengan para pekerja dari negara lain. Di balik gerakan ini ada Yayasan Teraju Indonesia (Lembaga Teraju Indonesia/LTI) yang dipimpin oleh Agus Sutomo, atau biasa disapa dengan Tomo. “Banyak pekerja masih takut untuk berserikat. Kami menawarkan pelatihan daring dan luring mengenai hak-hak mereka,” ia menjelaskan. Bahan-bahan pelatihannya disusun sepraktis dan sejelas mungkin.

Melalui pendekatan personal, LTI dianggap sebagai keluarga. “Pemerintah setempat sudah menerima federasi. Mereka mengerti bahwa serikat buruh dapat membantu memperkuat dialog sosial,” Tomo menambahkan. Masih ada tantangan, seperti respons yang lambat dan tanda-tanda intimidasi dari perusahaan.

Sapu yang kuat

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Barat, Piter Bones, menekankan pentingnya kolaborasi. “Serikat buruh bukan perlawanan. Para pekerja yang berdaya pasti akan menopang produktivitas perusahaan,” ucapnya. Ia sendiri siap memberikan pelatihan negosiasi kepada para pekerja agar mereka dapat membela hak-haknya.

Tiga tahun setelah federasi berdiri, semangat mereka tetap menyala. Tomo sangat penuh harapan. “Bukan hal yang mustahil bagi pekerja sawit di Kalimantan Barat untuk mendapatkan perlindungan hukum. Setidaknya melalui peraturan daerah,” ujarnya. Seperti pepatah yang berbunyi: sebatang lidi tidak berarti apa-apa, tapi bila diikat jadi satu, akan menyapu segalanya. Dari perkebunan-perkebunan paling terpencil di Kalimantan Barat, suara para buruh sawit sekarang juga terdengar di luar negeri, dengan pesan bahwa perubahan mungkin terjadi dengan kerja sama.

Teks dan foto: Aseanty Pahlevi

Cookies op websites van de FNV

De FNV gebruikt functionele cookies die noodzakelijk zijn om de websites zo goed mogelijk te laten functioneren. Daarnaast maken we optioneel gebruik van statistische en marketing cookies. De functionele en statistische cookies maken geen gebruik van persoonsgegevens. De marketing cookies worden gebruikt voor het personaliseren van advertenties. Onderstaand kun je toestemming geven voor het gebruik van cookies. Voor meer informatie, of om op ieder moment je instellingen weer te wijzigen, kun je terecht op onze pagina over de cookies.

Functionele cookies: Cookies die nodig zijn om te zorgen dat de websites naar behoren functioneert.

Statistische cookies

:

helpen ons te begrijpen hoe bezoekers onze website gebruiken (paginaweergaven, klikgedrag). Deze gegevens worden anoniem gemeten en gedeeld met drie externe partners.

Marketing cookies

:

worden gebruikt om onze diensten via online advertenties onder de aandacht te brengen. Bij acceptatie van marketing cookies delen wij je persoonsgegevens met vier externe partners voor retargeting en advertentiepersonalisatie.