Perempuan Ghana merupakan kekuatan tersembunyi di industri minyak sawit

Potret Ghana

Redactie
Door Redactie 10 maart 2026

Industri minyak sawit merupakan salah satu sektor pertanian yang paling cepat tumbuh di Ghana dan memenuhi kebutuhan untuk baik konsumsi domestik maupun ekspor ke negara-negara tetangga. Akan tetapi, di balik angka statistik dan nilai ekonomi yang terlihat bagus, tersembunyi kisah para perempuan yang bekerja keras menopang keberlangsungan kebun-kebun tersebut.

Di lahan PSG Estate yang luas, ratusan perempuan bangun sebelum matahari terbit untuk bekerja di bawah terik matahari. Mereka mencabuti gulma dan memindahkan tandan buah yang berat. Tandan buah tersebut kemudian diolah menjadi minyak sawit yang dijual di pasar-pasar Ghana. Pekerjaan mereka berat, tetapi tekad mereka kuat.

Regina Kudjo yang berusia 40 tahun merupakan salah satu dari mereka. Ia bekerja sebagai pengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), yang dikenal secara lokal sebagai ‘Bonkete’. Sebelumnya, ia seorang ibu rumah tangga. Namun, tujuh tahun yang lalu ia mulai bekerja di Perkebunan PSG saat situasi keuangan keluarganya memburuk. “Awalnya saya mencabuti gulma,” kenangnya, “tetapi setelah saya menjalani operasi fibroid (mioma uteri/tumor jinak di daerah rahim), mereka memindahkan saya ke pengolahan tandan buah karena kondisi kesehatan saya. Sejak itu saya berada di sini.”

Upah naik

Hari kerja Regina dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 13.30, tetapi ia baru tiba di rumah sekitar pukul 14.30 dengan bus. Hari yang terlihat singkat penuh dengan kerja yang menguras tenaga fisik dan kuota yang ketat. “Kami sangat lelah,” ucapnya. “Setiap orang harus memenuhi target 80 tandan sebelum waktu pulang. Jika tidak mencapai target, nama pekerja tidak akan dicatat untuk mendapatkan bayaran. Tidak ada istirahat sebelum pekerjaan selesai.” Menurut manajemen, hal itu tidak berlaku untuk pekerja PSG. Mereka diperbolehkan makan, minum, dan beristirahat saat mereka mau. Seiring waktu, upah mereka memang naik. Akan tetapi, para perempuan berpendapat pekerjaan tersebut membawa dampak buruk. Banyak dari mereka yang merasakan nyeri terus-menerus dan bergantung pada pereda nyeri atau kunjungan ke dokter untuk mengatasinya.

Namun, Regina berkata bahwa ia tidak dapat berhenti. “Saya menafkahi keluarga dan menyekolahkan dua anak dengan penghasilan saya. Bahkan saat saya merasa kurang sehat, saya tetap bekerja,” ia menambahkan. “Setiap pekerjaan adalah pekerjaan. Saya bersyukur setidaknya saya dapat menghidupi keluarga saya.”

Beban berat

Bagi Mary Addo yang berusia 24 tahun, bekerja di perkebunan merupakan cara untuk bertahan hidup sekaligus batu loncatan menuju impiannya. Mary yang tidak menyelesaikan sekolah menengahnya bercerita bahwa ia bekerja di PSG setelah mengetahui ada lowongan di daerahnya. “Saya tidak tertarik bersekolah,” ia menjelaskan. “Saya ingin menjadi penata rambut. Jadi, saya memutuskan untuk bekerja dan menabung untuk itu.” Empat tahun kemudian, antusiasme Mary dihadapkan dengan kenyataan pekerjaan yang berat. Kuota hariannya 150 tandan dan ia bekerja sampai pukul 16.00. “Pekerjaannya berat,” ucapnya. “Kami kembali ke kebun setelah beristirahat beberapa menit. Kami sudah mengajukan keluhan kepada manajemen bahwa pekerjaannya terlalu berat.” Kecemasan terbesar bagi Mary dan banyak perempuan lainnya ialah mereka harus mendorong buah sawit yang berat untuk dipindahkan. Menurut Mary, hal itu menyebabkan nyeri pada perutnya. “Saya belum melahirkan, jadi saya berhenti mendorong biji sawit.” Ia menghargai upaya perusahaan untuk melindungi pekerja perempuan. “Saya senang kami memiliki kebijakan yang bagus untuk perempuan,” ia menambahkan.   

Perlakuan yang setara dan perlindungan

Di tengah-tengah kecemasan para perempuan tersebut terdapat Elizabeth Gyan, pengawas dan perwakilan gender PSG Estate 2. Ia memastikan kebijakan gender perusahaan ditaati dan setiap pekerja, apa pun jabatan mereka, diperlakukan dengan adil. “Kami tidak mengizinkan seseorang karena jabatannya melecehkan atau menyakiti orang lain,” Elizabeth menjelaskan. “Jika seseorang terbukti bersalah atas pelecehan atau kekerasan seksual, ia akan ditindak oleh manajemen.” Ia bercerita tentang kasus pelaporan seorang perempuan yang mengalami menstruasi tanpa henti setelah berkali-kali mengangkat buah yang berat. “Saat saya melaporkan hal itu, manajemen segera bertindak. Pekerja perempuan tersebut dipindahkan ke tugas yang lebih ringan di bagian pemanenan,” kata Elizabeth. “Kami mengupayakan agar para pekerja perempuan tidak mengangkut buah sama sekali.”

Pekerjaan berisiko

Selain beban kerja yang berat, perkebunan juga memiliki risiko. Christiana Nketia, yang menaburkan pupuk di beberapa bagian perkebunan, menggambarkan bahaya yang dihadapi pekerja setiap hari. “Kadang-kadang kami menjumpai ular dan serangga berbahaya lainnya,” katanya. “Kali lainnya kami jatuh ke lubang yang tertutup gulma. Pekerjaan ini berisiko, tetapi atasan kami mendukung saat kami menyampaikan kekhawatiran kami.” Walaupun menghadapi kesulitan, ia tetap penuh harapan. “Satu-satunya permintaan kami ialah agar manajemen terus menaikkan upah kami dan memperbaiki kondisi kerja. Kami menyukai pekerjaan kami, tetapi pekerjaannya harus aman.”

Wilson Amoah, manajer perkebunan Estate 2, menekankan kebijakan ketat di tempat kerja untuk melindungi perempuan dari pelecehan. “Kami tidak menoleransi bentuk pelecehan seksual apa pun. Apa pun jabatan Anda, Anda akan dipecat jika terbukti bersalah,” ucapnya. Pekerja perempuan yang hamil juga mendapatkan bantuan medis untuk menjaga kesehatan mereka.

Kebanggaan tersembunyi

Para perempuan itu menjadi tulang punggung tak terlihat dari industri minyak sawit di Ghana. Pekerjaan mereka menjaga produksi tetap berjalan, mendorong ekonomi, dan mendukung ribuan keluarga. Mereka bangun sebelum matahari terbit, terus bekerja walaupun merasa sakit dan lelah luar biasa kemudian mereka pulang untuk masak, mengurus rumah, dan menjaga anak mereka. Namun, mereka menunjukkan ketahanan mereka dengan kebanggaan tersembunyi.

Seperti yang disampaikan Regina, “Ya, pekerjaannya memang berat. Akan tetapi, saat melihat anak-anak saya pergi ke sekolah, saya tahu bahwa semua kerja keras ini sepadan.” Kisah-kisah mereka mengingatkan kita bahwa di balik setiap botol minyak sawit terdapat keringat dan kekuatan para perempuan yang pengorbanannya memungkinkan pertumbuhan negara ini.

Teks: Rosemond Akuorkor Adjetey

Cookies op websites van de FNV

De FNV gebruikt functionele cookies die noodzakelijk zijn om de websites zo goed mogelijk te laten functioneren. Daarnaast maken we optioneel gebruik van statistische en marketing cookies. De functionele en statistische cookies maken geen gebruik van persoonsgegevens. De marketing cookies worden gebruikt voor het personaliseren van advertenties. Onderstaand kun je toestemming geven voor het gebruik van cookies. Voor meer informatie, of om op ieder moment je instellingen weer te wijzigen, kun je terecht op onze pagina over de cookies.

Functionele cookies: Cookies die nodig zijn om te zorgen dat de websites naar behoren functioneert.

Statistische cookies

:

helpen ons te begrijpen hoe bezoekers onze website gebruiken (paginaweergaven, klikgedrag). Deze gegevens worden anoniem gemeten en gedeeld met drie externe partners.

Marketing cookies

:

worden gebruikt om onze diensten via online advertenties onder de aandacht te brengen. Bij acceptatie van marketing cookies delen wij je persoonsgegevens met vier externe partners voor retargeting en advertentiepersonalisatie.