Serikat Buruh Sektor Pertanian (General Agricultural Workers’ Union/GAWU) terus mencapai kemajuan besar dalam mempromosikan hak-hak pekerja, memperbaiki kesejahteraan, dan membina hubungan industrial yang baik di perusahaan pertanian Ghana. Walaupun tantangan terus ada, para pemimpin serikat buruh berkata bahwa kerja sama tim, kolaborasi, dan keterlibatan strategis merupakan kunci meraih kesuksesan.
Sektor minyak sawit dan perkebunan di Ghana tetap merupakan sumber lapangan kerja yang penting di pedesaan, tetapi masih dihadapkan dengan kondisi kerja yang buruk, upah rendah, serta standar keselamatan yang lemah. Menurut Emelia Ghansah, kepala pendidikan dan pelatihan di GAWU, banyak buruh merupakan pekerja kontrak, terutama perempuan. Mereka juga terpapar agrokimia yang berbahaya tanpa mendapatkan pelatihan yang tepat atau pakaian pelindung yang memadai.
Emelia Ghansah
Emelia menyebutkan bahwa lemahnya penegakan undang-undang ketenagakerjaan, rasa takut akan pembalasan di kalangan pekerja kontrak, dan alat pelindung yang kurang memadai—khususnya untuk perempuan—tetap menjadi masalah utama. “Transparansi mengenai upah merupakan masalah lainnya karena banyak pekerja tidak mendapatkan slip gaji atau tidak mengerti cara upah mereka dihitung,” ia menambahkan.
Andrews Bordoh, sekretaris serikat buruh setempat, bercerita tentang perkembangan serikat buruhnya di perkebunan Plantations Socfinaf Ghana (PSG) di Daboase. “Berkat upaya para pemimpin serta kolaborasi dengan mitra dan pekerja internasional, kami mencapai kemajuan yang luar biasa,” ujarnya. Salah satu kesuksesan mereka yang paling bermakna ialah terbentuknya komisi gender yang sangat penting. Komisi tersebut mengurusi kesejahteraan perempuan pada khususnya serta isu-isu terkait keibuan, kesehatan ibu, pengasuhan anak, dan pelecehan.
Andrews Bordoh
Kerja sama GAWU dan organisasi buruh internasional juga telah memperkuat advokasi mereka di tingkat lokal, nasional, dan bahkan internasional. “Melalui kolaborasi dengan serikat buruh di tingkat global, kami dapat menangani keluhan secara lebih efektif dan membangun kepercayaan antara para pekerja. Secara bersamaan, kami mendorong kerja sama negara-negara selatan,” demikian ucap Emelia.
Serikat buruh memiliki komitmen kuat terhadap kesetaraan gender dan inklusivitas. Wilson Amoah, manajer di PSG, menekankan kebijakan yang ketat di tempat kerja untuk melindungi perempuan dari pelecehan. “Kami tidak menoleransi bentuk pelecehan seksual apa pun. Apa pun jabatan Anda, Anda akan dipecat jika terbukti bersalah,” ia menjelaskan. Pekerja perempuan yang mengandung juga mendapatkan fasilitas medis untuk menjaga kesehatan mereka. Dengan lebih dari 2.000 pekerja serta komposisi gender 40% perempuan dan 60% laki-laki di PSG, GAWU tetap berkomitmen terhadap inklusivitas dan sikap hormat.
Sekretaris Andrews Bordoh menyampaikan bahwa pemimpin serikat buruh kesulitan menyeimbangkan tugas dengan jadwal kerja mereka. “Kegiatan serikat buruh menjadi bagian dari pekerjaan, tetapi manajemen kadang-kadang tidak memberikan ruang untuk melakukannya,” ia mengeluh. Ke depannya, serikat buruh tetap berfokus pada perbaikan kesejahteraan, penguatan perlindungan perempuan, dan peningkatan kebebasan dalam berkegiatan. “Tanpa serikat buruh, pekerjaan tidak akan lengkap,” demikian ucap Andrews. “Jika serikat buruh sukses, perusahaan juga sukses.”
GAWU menganggap jaringan International Palm Oil Workers United (IPOWU) sebagai penguat perjuangan di sektor minyak sawit Ghana. Menurut para pengurus serikat buruh, pertemuan baru-baru ini di Indonesia membuka wawasan para peserta Ghana. Mereka belajar cara meningkatkan hubungan industrial, melindungi pekerja, dan mempromosikan kebijakan yang adil di industri minyak sawit.
Di Daboase, ketua serikat buruh setempat di PSG Geoffrey Zottor bercerita bahwa pelatihan tersebut membantu serikat buruh melindungi pekerja yang rentan, yaitu perempuan dan pekerja kontrak PKWT yang sering kali menghadapi diskriminasi dalam hal upah dan penugasan kerja, baik di dalam maupun di luar sektor pertanian. “Kami menyadari betapa pentingnya memiliki kebijakan yang jelas agar perempuan tidak mengalami diskriminasi dan pekerja kontrak diperlakukan dengan adil,” ucapnya. Sebagai tambahan, manajemen menekankan bahwa mereka merupakan satu-satunya perusahaan yang sukses menangani masalah ketidaksetaraan di beberapa tahun terakhir dan terus melakukannya melalui komitmen berkelanjutan untuk upah yang setara dan kesetaraan gender.
Geoffrey Zottor
Geoffrey menambahkan bahwa serikat buruh dari negara lain membagikan kisah sukses mereka. “Hal itu menginspirasi kami untuk memperbaiki yang kami miliki dan menjalankan yang belum ada,” katanya. “Solidaritas internasional membantu kami memahami cara mendorong kebijakan yang lebih berfokus pada manusia.” Ia menyebutkan kekosongan besar di gerakan buruh di Ghana, misalnya lemahnya pemanfaatan solidaritas antara serikat buruh. “Bahkan undang-undang ketenagakerjaan mengakui perlunya solidaritas. Akan tetapi, kami masih belum memanfaatkannya dengan baik. Melalui IPOWU, kami telah belajar cara kolaborasi antara serikat buruh dapat memperkuat kita,” ia berkomentar.
Teks: Rosemond Akuorkor Adjetey